Rabu, 21 Agustus 2013


BILA HATI BERCAHAYA
dakah diantara kita yang merasa
mencapai sukses hidup karena telah
berhasil meraih segalanya : harta,
gelar, pangkat, jabatan, dan
kedudukan yang telah menggenggam
seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji
ulang, seberapa besar sebenarnya nilai
dari apa-apa yang telah kita raih
selama ini.
Di sebuah harian pernah diberitakan
tentang penemuan baru berupa
teropong yang diberi nama telescope
Hubble. Dengan teropong ini berhasil
ditemukan sebanyak lima milyar
gugusan galaksi. Padahal yang telah
kita ketahui selama ini adalah suatu
gugusan bernama galaksi bimasakti,
yang di dalamnya terdapat planet-
planet yang membuat takjub siapa
pun yang mencoba bersungguh-
sungguh mempelajarinya. Matahari
saja merupakan salah satu planet
yang sangat kecil, yang berada dalam
gugusan galaksi di dalam tata surya
kita. Nah, apalagi planet bumi ini
sendiri yang besarnya hanya satu
noktah. Sungguh tidak ada apa-
apanya dibandingkan dengan lima
milyar gugusan galaksi tersebut.
Sungguh alangkah dahsyatnya.
Sayangnya, seringkali orang yang
merasa telah berhasil meraih segala
apapun yang dirindukannya di bumi
ini ? dan dengan demikian merasa
telah sukses ? suka tergelincir hanya
mempergauli dunianya saja.
Akibatnya, keberadaannya membuat
ia bangga dan pongah, tetapi
ketiadaannya serta merta membuat
lahir batinnya sengsara dan tersiksa.
Manakala berhasil mencapai apa yang
diinginkannya, ia merasa semua itu
hasil usaha dan kerja kerasnya
semata, sedangkan ketika gagal
mendapatkannya, ia pun serta merta
merasa diri sial. Bahkan tidak jarang
kesialannya itu ditimpakan atau
dicarikan kambing hitamnya pada
orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa
bahwa apapun yang diinginkannya
dan diusahakan oleh manusia sangat
tergantung pada izin Allah Azza wa
Jalla. Mati-matian ia berjuang
mengejar apa-apa yang dinginkannya,
pasti tidak akan dapat dicapai tanpa
izin-Nya. Laa haula walaa quwwata
illaabillaah! Begitulah kalau orang
hanya bergaul, dengan dunia yang
ternyata tidak ada apa-apanya ini.
Padahal, seharusnya kita bergaul
hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat
yang Maha Menguasai jagat raya,
sehingga hati kita tidak akan pernah
galau oleh dunia yang kecil mungil ini.
Laa khaufun alaihim walaa hum
yahjanuun! Samasekali tidak ada
kecemasan dalam menghadapi urusan
apapun di dunia ini. Semua ini tidak
lain karena hatinya selalu sibuk
dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta
yang begitu hebat dan dahsyat.
Sikap inilah sesungguhnya yang harus
senantiasa kita latih dalam
mempergauli kehidupan di dunia ini.
Tubuh lekat dengan dunia, tetapi
jangan biarkan hati turut lekat
dengannya. Ada dan tiadanya segala
perkara dunia ini di sisi kita jangan
sekali-kali membuat hati goyah
karena toh sama pahalanya di sisi
Allah. Sekali hati ini lekat dengan
dunia, maka adanya akan membuat
bangga, sedangkan tiadanya akan
membuat kita terluka. Ini berarti kita
akan sengsara karenanya, karena ada
dan tiada itu akan terus menerus
terjadi.
Betapa tidak! Tabiat dunia itu
senantisa dipergilirkan. Datang,
tertahan, diambil. Mudah, susah.
Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati,
direndahkan. Semuanya terjadi silih
berganti. Nah, kalau hati kita hanya
akrab dengan kejadian-kejadian
seperti itu tanpa krab dengan Zat
pemilik kejadiannya, maka letihlah
hidup kita.
Lain halnya kalau hati kita selalu
bersama Allah. Perubahan apa saja
dalam episode kehidupan dunia tidak
akan ada satu pun yang merugikan
kita. Artinya, memang kita harus terus
menerus meningkatkan mutu
pengenalan kita kepada Allah Azza wa
Jalla.
Di antara yang penting yang kita
perhatikan sekiranya ingin dicintai
Allah adalah bahwa kita harus zuhud
terhadap dunia ini. Rasulullah SAW
pernah bersabda, “Barangsiapa yang
zuhud terhadap dunia, niscaya Allah
mencintainya, dan barangsiapa yang
zuhud terhadap apa yang ada di
tangan manusia, niscaya manusia
mencintainya.”
Zuhud terhadap dunia bukan berarti
tidak mempunyai hal-hal yang bersifat
duniawi, melainkan kita lebih yakin
dengan apa yang ada di sisi Allah
daripada apa yang ada di tangan kita.
Bagi orang-orang yang zuhud
terhadap dunia, sebanyak apapun
yang dimiliki sama sekali tidak akan
membuat hati merasa tentram karena
ketentraman itu hanyalah apa-apa
yang ada di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, “Melakukan
zuhud dalam kehidupan di dunia
bukanlah dengan mengharamkan
yang halal dan bukan pula
memboroskan kekayaan. Zuhud
terhadap kehidupan dunia itu ialah
tidak menganggap apa yang ada pada
dirimu lebih pasti daripada apa yang
ada pada Allah.” (HR. Ahmad,
Mauqufan)
Andaikata kita merasa lebih tentram
dengan sejumlah tabungan di bank,
maka berarti kita belum zuhud.
Seberapa besar pun uang tabungan
kita, seharusnya kita lebih merasa
tentram dengan jaminan Allah. Ini
dikarenakan apapun yang kita miliki
belum tentu menjadi rizki kita kalau
tidak ada izin Allah.
Sekiranya kita memiliki orang tua atau
sahabat yang memiliki kedudukan
tertentu, hendaknya kita tidak sampai
merasa tentram dengan jaminan
mereka atau siapa pun. Karena, semua
itu tidak akan datang kepada kita,
kecuali dengan izin Allah.
Orang yang zuhud terhadap dunia
melihat apapun yang dimilikinya tidak
menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan
jaminan Allah karena walaupun tidak
tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia
Mahatahu akan segala kebutuhan
kita.jangan ukur kemuliaan seseorang
dengan adanya dunia di
genggamannya. Sebaliknya jangan
pula meremehkan seseorang karena ia
tidak memiliki apa-apa. Kalau kita
tidak menghormati seseorang karena
ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita
menghormati seseorang karena
kedudukan dan kekayaannya, kalau
meremehkan seseorang karena ia
papa dan jelata, maka ini berarti kita
sudah mulai cinta dunia. Akibatnya
akan susah hati ini bercahaya disisi
Allah.
Mengapa demikian? Karena, hati kita
akan dihinggapi sifat sombong dan
takabur dengan selalu mudah
membeda-bedakan teman atau
seseorang yang datang kepada kita.
Padahal siapa tahu Allah
mendatangkan seseorang yang
sederhana itu sebagai isyarat bahwa
Dia akan menurunkan pertolongan-
Nya kepada kita.
Hendaknya dari sekarang mulai diubah
sistem kalkulasi kita atas
keuntungan-keuntungan. Ketika
hendak membeli suatu barang dan kita
tahu harga barang tersebut di
supermarket lebih murah ketimbang
membelinya pada seorang ibu tua
yang berjualan dengan bakul
sederhananya, sehingga kita mersa
perlu untuk menawarnya dengan
harga serendah mungkin, maka
mulailah merasa beruntung jikalau
kita menguntungkan ibu tua
berimbang kita mendapatkan untung
darinya. Artinya, pilihan membeli
tentu akan lebih baik jatuh padanya
dan dengan harga yang
ditawarkannya daripada membelinya
ke supermarket. Walhasil, keuntungan
bagi kita justru ketika kita bisa
memberikan sesuatu kepada orang
lain.
Lain halnya dengan keuntungan
diuniawi. Keuntungan semacam ini
baru terasa ketika mendapatkan
sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti
keuntungan bagi kita adalah ketika
bisa memberi lebih daripada yang
diberikan oleh orang lain. Jelas, akan
sangat lain nilai kepuasan batinnya
juga.
Bagi orang-orang yang cinta dunia,
tampak sekali bahwa keuntungan bagi
dirinya adalah ketika ia dihormati,
disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan
tetapi, bagi orang-orang yang sangat
merindukan kedudukan di sisi Allah,
justru kelezatan menikmati
keuntungan itu ketika berhasil dengan
ikhlas menghargai, memuliakan, dan
menolong orang lain. Cukup ini saja!
Perkara berterima kasih atau tidak, itu
samasekali bukan urusan kita.
Dapatnya kita menghargai,
memuliakan, dan menolong orang lain
pun sudah merupakan keberuntungan
yang sangat luar biasa.
Sungguh sangat lain bagi ahli dunia,
yang segalanya serba kalkulasi, balas
membalas, serta ada imbalan atau
tidak ada imbalan. Karenanya, tidak
usah heran kalau para ahli dunia itu
akan banyak letih karena hari-harinya
selalu penuh dengan tuntutan dan
penghargaan, pujian, dan lain
sebagainya, dari orang lain. Terkadang
untuk mendapatkan semua itu ia
merekayasa perkataan, penampilan,
dan banyak hal demi untuk meraih
penghargaan.
Bagi ahli zuhud tidaklah demikian.
Yang penting kita buat tatanan
kehidupan ini seproporsional mungkin,
dengan menghargai, memuliakan, dan
membantu orang lain tanpa
mengharapkan imbalan apapun. Inilah
keuntungan-keuntungan bagi ahli-
ahli zuhud. Lebih merasa aman dan
menyukai apa-apa yang terbaik di sisi
Allah daripada apa yang didapatkan
dari selain Dia.
Walhasil, siapapun yang merindukan
hatinya bercahaya karena senantiasa
dicahayai oleh nuur dari sisi Allah,
hendaknya ia berjuang sekuat-
kuatnya untuk mengubah diri,
mengubah sikap hidup, menjadi orang
yang tidak cinta dunia, sehingga
jadilah ia ahli zuhud.
“Adakalanya nuur Illahi itu turun
kepadamu,” tulis Syaikh Ibnu Atho?
illah dalam kitabnya, Al Hikam, “tetapi
ternyata hatimu penuh dengan
keduniaan, sehingga kembalilah nuur
itu ke tempatnya semula. Oleh sebab
itu, kosongkanlah hatimu dari segala
sesuatu selain Allah, niscaya Allah
akan memenuhinya dengan ma?rifat
dan rahasia-rahasia.”
Subhanallaah, sungguh akan
merasakan hakikat kelezatan hidup di
dunia ini, yang sangat luar biasa,
siapapun yang hatinya telah dipenuhi
dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa
Jalla. “Cahaya di atas cahaya. Allah
membimbing (seorang hamba) kepada
cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki
…” (QS. An Nuur [24] : 35).
Ditulis oleh Drs.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar