Jumat, 27 September 2013


“Saya lulus sarjana 3,5 tahun saja.
Soalnya, sudah nggak betah kuliah,”
Monica tertawa. Maklum, sejak SMA,
ibu dua anak ini sudah senang
berjualan dan tertarik pada fashion.
Baju, kaus, bahkan batik, ia beli, lalu
dijual kembali ke teman-temannya.
Sayang, orangtua tak mendukung
minatnya. Mereka ingin Monica
menjadi apoteker, mendampingi
kakaknya yang dokter. Tetapi, melalui
program PMDK (Penelusuran Minat
dan Kemampuan), Monica akhirnya
diterima di Fakultas Ekonomi tanpa tes.
Lulus dari Jurusan Manajemen, Monica
memilih profesi yang dekat dengan
minatnya, fashion. Ia bekerja 5 tahun
di Matahari Department Store,
disambung 7 tahun di Batik Danar
Hadi. Setelah itu, Monica merasa
pengalamannya sebagai karyawan
sudah cukup. “Saya banting setir jadi
pengusaha. Saya join kakak
membangun restoran. Bisnis ini cukup
sukses, tetapi entah mengapa, lama-
kelamaan saya kehilangan minat,”
Monica berterus-terang.
Dengan bakat marketing-nya, Monica
mencoba menjadi broker rumah dan
tanah. Diakui, komisi yang ia peroleh
cukup besar, tetapi suaminya,
Subiakto, keberatan. Maklum, jam
kerjanya tak teratur. Ia kerap harus
memenuhi janji bertemu dengan calon
pembeli di malam hari. “Klien saya
kebanyakan memang bapak-bapak,”
ujarnya.
Di saat sibuk menjadi broker itulah,
tiba-tiba putri sulungnya, Amanda
(14), meminta Monica untuk
membuatkan bisnis untuknya.
Amanda, meski baru duduk di bangku
SMP saat itu, sudah bertekad jika
dewasa nanti tak ingin kerja ‘ikut
orang’. “Mungkin ia tidak nyaman
melihat bapak-ibunya kerja pergi pagi,
pulang malam,” jelas Monica.
Monica tertantang untuk memenuhi
permintaan lugu anaknya itu. Bukan
hanya karena rasa sayang, tetapi juga
karena sejak kelas 3 SD, Amanda
memang sudah hobi berjualan pernak-
pernik. Stiker, aksesori rambut, dan
peralatan sekolah dibeli Amanda
secara grosir, lalu dijual ke teman-
temannya. “Tetapi, ia lebih lihai dari
saya. Kalau sudah tidak ada yang mau
membeli, ia bisa, lho, merayu teman-
temannya untuk tetap membeli
dengan alasan untuk dihadiahkan ke
adik atau teman satu kelas yang
ditaksir.”
Inspirasi Laura Ashley
Dalam memulai usaha baru itu, Monica
tak mau jor-joran mengeluarkan
uang. Monica khawatir, Amanda
nantinya malah bosan dengan bisnis
tersebut, dan akhirnya ditinggalkan.
Monica sengaja meminjam uang dari
kakak dan asisten rumah tangganya.
Jumlah totalnya Rp 3 juta. “Pinjam
uang dari Si Mbak adalah tantangan
buat saya. Saya ingin membuktikan,
saya bisa berhasil. Janji saya, uang
kembali dalam seminggu,” tekadnya.
Untuk mengembangkan uang
tersebut, Monica memakai cara lama:
ia membeli barang-barang fashion dari
rekannya yang baru kembali dari
Bangkok, lalu dijual lagi ke teman-
teman di lingkungan tempat tinggal.
Tak disangka, Rp 3 juta itu ‘berubah’
menjadi Rp 6 juta dalam sekejap.
Monica menepati janjinya
mengembalikan uang itu.
Setelah meraih Rp 3 juta, Monica
berpikir, meski pemula, bisnis ini harus
dijalankan dengan serius. Ia butuh
tambahan modal. Modal sebesar Rp 9,5
juta akhirnya didapat dari sebuah bank
asing. “Selama 3 tahun, pinjaman itu
harus dicicil sebesar Rp 425.000 per
bulan. Tanggung jawab untuk
membayar cicilan, saya serahkan
kepada Amanda. Artinya, baik saya
maupun ia, tak boleh main-main
dalam bisnis ini.”
Pilihan bisnis akhirnya jatuh pada
busana wanita dari bahan katun. Ia
memanfaatkan kain katun produk
lokal yang melimpah, dipadu katun
impor dari Jepang, Korea, dan India.
Mengapa katun? Menurut Monica, kain
ini cocok dipakai di Indonesia yang
berhawa tropis. Harganya cukup
terjangkau untuk kalangan menengah
ke atas, yakni Rp 175.000-700.000.
Kalau umumnya orang hanya
memakai baju dengan satu jenis motif,
baik itu bunga, polkadot, atau garis,
Monica bereksperimen dengan
memadu-padankan berbagai motif
tersebut. Termasuk, tabrak warna
dalam satu helai pakaian. “Saya
teringat baju Amanda sewaktu masih
balita. Mereknya Oilily, produk
Belanda. Bajunya manis dengan motif
bunga ‘tabrak lari’. Bahkan, 4 motif
dengan warna-warna berani dipadu
jadi satu. Tapi, kok, tetap lucu.”
Warna-warna jreng ini kemudian
diubah oleh Monica menjadi lebih
kalem. Inspirasinya datang dari Laura
Ashley, pendiri sekaligus merek
fashion dan interior ternama asal
Inggris yang mengawali bisnisnya dari
kain perca. Menurut Monica, warna-
warna lembut seperti dusty pink, mint
green, mustard yellow belum terlalu
banyak dipakai di Indonesia. “Setahu
saya, desainer Indonesia yang senang
memakai warna itu hanya Biyan dan
Ronald V. Gaghana.”
Tantangan baru pun menghadang.
Warna-warna yang diinginkan ada,
tetapi jumlahnya tak banyak.
Untunglah, motif ‘tabrak lari’ yang
diusung Monica memang tak
membutuhkan terlalu banyak kain.
Dari modal Rp 12 juta, Monica berhasil
membuat lebih dari 50 pasang pakaian,
yang dikerjakan oleh penjahit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar